Notification

×

Iklan

Iklan

The Devil Wears Prada 2 Film Glamor Industri Mode

Tuesday, May 19, 2026 | 10:48 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-19T15:48:19Z
YouTube Thumbnail


Hampir 20 tahun setelah dunia fashion diguncang oleh sosok editor paling ditakuti di New York, Miranda Priestly kembali menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Majalah Runway yang dulu berjaya kini mulai kehilangan pengaruh di tengah derasnya perkembangan media digital dan dominasi para influencer.


Miranda berusaha mempertahankan kejayaan Runway di saat industri fashion berubah dengan sangat cepat. Tekanan dari perusahaan, persaingan media online, hingga perubahan selera generasi baru membuat posisinya tidak lagi sekuat dulu.


Di tengah situasi itu, Andy Sachs kembali hadir. Bukan lagi asisten polos yang sering dimarahi Miranda, Andy kini telah menjadi jurnalis sukses dengan karier yang gemilang. Pertemuan mereka membawa hubungan lama yang penuh konflik kembali terbuka, tetapi kali ini keduanya harus bekerja sama untuk menyelamatkan dunia fashion yang mereka kenal.


Film ini masih menghadirkan perpaduan drama, komedi, dan kehidupan glamor industri mode yang penuh tekanan. Dengan arahan sutradara David Frankel dan naskah dari Aline Brosh McKenna, The Devil Wears Prada 2 hadir sebagai kelanjutan kisah ikonik yang menampilkan persaingan, ambisi, dan perubahan dunia fashion modern.


Film ini tayang pada tahun 2026 dan berhasil menarik perhatian besar di box office, sekaligus membawa kembali nostalgia penggemar film pertamanya.


Ringkasan Cerita The Devil Wears Prada 2 :


Hampir dua puluh tahun setelah meninggalkan Runway, Andrea “Andy” Sachs akhirnya memiliki hidup yang tenang. Ia sukses sebagai jurnalis investigasi terkenal di Chicago, bertunangan dengan pembuat film dokumenter bernama Ethan, dan bersiap memulai karier baru di London.


Sementara itu di New York, dunia fashion sedang berubah drastis. Majalah cetak mulai ditinggalkan. Influencer media sosial, livestream belanja, dan video viral kini menguasai industri mode.


Namun ada satu nama yang masih ditakuti sekaligus dihormati semua orang.


Miranda Priestly.


Pemimpin redaksi legendaris Runway itu masih berdiri di puncak dunia fashion, meski kerajaannya perlahan mulai runtuh.


Di kantor pusat Runway yang dingin dan mewah di Manhattan, Miranda menerima kabar buruk. Berita tentang kemungkinan penutupan majalah bocor ke publik lebih cepat dari yang diperkirakan. Para eksekutif mulai panik, pengiklan mulai menjauh, dan masa depan Runway berada di ujung tanduk.


Miranda tahu ia membutuhkan seseorang yang bisa menyelamatkan majalah itu.


Dan satu-satunya orang yang terus memenuhi pikirannya hanyalah dia.


Andy Sachs.


Beberapa hari kemudian, Andy kembali menginjakkan kaki di kantor Runway untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Namun suasana tempat itu sudah berbeda. Lorong-lorong yang dulu terasa hidup kini dipenuhi kecemasan. Para editor berbisik di sudut ruangan, sementara layar besar terus memantau tren media sosial setiap detik.


Miranda tetap sama seperti dulu  dingin, elegan, dan sulit ditebak.


Tanpa basa-basi, Miranda menawarkan Andy posisi editor di Runway.


Andy langsung menolak.


Ia sudah meninggalkan dunia fashion sejak lama dan tidak ingin kembali terseret ke dalam kehidupan penuh tekanan yang dulu hampir menghancurkannya.


Namun semakin lama berada di New York, Andy mulai melihat kenyataan pahit industri fashion modern. Kreativitas perlahan digantikan algoritma. Desainer muda dihancurkan oleh komentar viral. Artikel ditulis demi angka dan popularitas, bukan kualitas.


Runway memang keras dan penuh tuntutan.


Tapi setidaknya majalah itu pernah menghargai seni dan keahlian.


Akhirnya Andy memutuskan untuk membantu Miranda sementara waktu.


Kembalinya Andy membuat seluruh kantor terkejut. Emily Charlton, mantan asisten Miranda yang kini menjadi eksekutif fashion terkenal di Eropa, bahkan tidak percaya Andy mau kembali dengan sukarela.


Bersama-sama, Andy dan Miranda mulai membangun ulang Runway. Andy membawa ide baru: liputan mendalam, kisah para desainer muda, hingga investigasi tentang sisi gelap industri fashion.


Miranda awalnya membenci sebagian besar ide itu.


Namun diam-diam ia menyetujuinya.


Perlahan, Runway kembali relevan dan mulai mendapatkan perhatian publik lagi.


Tetapi kesuksesan itu memunculkan ancaman baru.


Sebuah perusahaan teknologi bernama ModeHaus ingin membeli Runway dan mengubahnya menjadi platform fashion berbasis AI dan influencer digital. Miranda menolak tawaran itu mentah-mentah.


Sejak saat itu, perang dimulai.


ModeHaus menyerang Runway lewat media, rumor, dan tekanan bisnis. Mereka menyebarkan isu bahwa Miranda sudah terlalu tua, ketinggalan zaman, dan tidak lagi cocok memimpin industri modern.


Untuk pertama kalinya, Miranda terlihat benar-benar mulai kelelahan.


Suatu malam, Andy menemukan Miranda duduk sendirian di kantor gelapnya tanpa asistennya, tanpa makeup sempurna, tanpa sikap dingin yang biasanya selalu ia tunjukkan.


Miranda mengakui bahwa dunia fashion yang dulu ia cintai perlahan menghilang.


Baginya, fashion dulu adalah seni, imajinasi, dan identitas.


Sekarang semuanya hanya bertahan beberapa detik di media sosial sebelum dilupakan.


Momen itu membuat Andy melihat sisi lain Miranda — bukan sebagai monster fashion, melainkan seorang wanita yang takut kehilangan dunia yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.


Namun masalah terbesar belum datang.


Andy menemukan bahwa seseorang di dalam perusahaan membocorkan rahasia Runway kepada ModeHaus. Semua bukti mengarah pada Emily.


Saat dikonfrontasi, Emily akhirnya meledak. Ia mengaku lelah melihat Miranda memperlakukan orang-orang di sekitarnya seperti alat yang bisa dibuang kapan saja.


Andy ingin membela Miranda.


Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu Emily tidak sepenuhnya salah.


Karena dulu Miranda juga pernah memanfaatkan dirinya.


Pengkhianatan itu hampir menghancurkan Runway tepat sebelum peluncuran edisi terbesarnya. Para investor menuntut Miranda mundur dari jabatannya.


Namun dalam rapat penting perusahaan, Miranda justru membuat keputusan mengejutkan.


Ia memilih menyerahkan masa depan Runway kepada Andy.


Keesokan harinya, dunia fashion gempar.


Miranda Priestly resmi mengundurkan diri dari Runway.


Media sosial dipenuhi reaksi. Sebagian menyebut Miranda seorang jenius. Sebagian lagi menganggapnya tiran terakhir dunia fashion klasik.


Mungkin ia memang keduanya.


Setelah kepergian Miranda, Andy resmi menjadi pemimpin redaksi baru Runway. Namun ia membawa perubahan besar. Majalah itu tetap elegan dan eksklusif, tetapi kini terasa lebih manusiawi.


Penulis muda diberi kesempatan.


Seniman baru mulai muncul di sampul.


Fashion kembali menjadi tentang cerita dan kreativitas bukan sekadar status sosial.


Beberapa bulan kemudian, saat Paris Fashion Week berlangsung, Andy bertemu Miranda lagi di depan sebuah kafe kecil bersalju di Paris.


Tidak ada kamera.


Tidak ada asisten.


Tidak ada kemewahan berlebihan.


Hanya Miranda yang terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Miranda ternyata sedang menulis sebuah buku.


Bukan memoar.


Melainkan “peringatan,” seperti yang ia katakan dengan senyum tipis.


Sebelum pergi, Miranda menatap Andy untuk terakhir kalinya.


“Andaikan sejak awal kamu memang tidak ditakdirkan bertahan di Runway, Andrea,” ujarnya lirih.


Andy tersenyum.


“Aku belajar dari yang terbaik.”


Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Miranda tampak benar-benar bangga pada Andy.

×
Berita Terbaru Update
close