Siapa yang tidak tergiur melihat label promo "beli banyak, lebih hemat" di supermarket? Banyak orang tergoda membeli barang kebutuhan dalam jumlah besar atau grosir, dengan anggapan bahwa menyetok lebih banyak barang akan jauh lebih menguntungkan secara finansial. Namun, kebiasaan ini ternyata bisa menjadi bumerang bagi kondisi keuangan keluarga.
Perencana keuangan bersertifikat, Mike Rini, mengingatkan bahwa kebiasaan belanja sehari-hari sangat berpengaruh pada kesehatan finansial keluarga. Menurutnya, mindful spending berarti setiap pembelian harus dilakukan secara sengaja dan memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar ikut-ikutan promo.
Stok Menumpuk, Dompet Pun Menjerit
Tanpa perhitungan yang matang dan evaluasi pemakaian, kebiasaan menyetok barang justru berisiko menjadi pemborosan karena barang yang dibeli mungkin tidak terpakai secara maksimal.
Lebih mengkhawatirkan lagi, dorongan untuk memborong barang sering kali muncul bukan karena kebutuhan nyata, melainkan sebagai bentuk pelampiasan emosional saat sedang lelah atau stres bekerja dengan asumsi bahwa barang tersebut pasti akan berguna suatu saat nanti.
Namun jika barang lama masih menumpuk di rak dan stok baru ukuran jumbo sudah telanjur dibeli, di situlah kebocoran finansial perlahan terjadi tanpa disadari.
Ukur Dulu Sebelum Membeli
Mike menegaskan pentingnya menghitung secara realistis berapa lama stok barang itu benar-benar akan habis digunakan. Kita perlu membedakan antara pembelian jangka panjang. Jangka panjangnya ini berapa lama? Kalau untuk pembelian bulky kan kepakai sebulan, ujarnya dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia di Jakarta, Rabu 29 April 2026.
Ia mendorong konsumen untuk lebih jujur pada diri sendiri: apakah pembelian stok tambahan itu benar-benar rasional, atau sekadar bentuk pembenaran atas keinginan sesaat.
Belanja Dengan Kesadaran Penuh
Para ahli keuangan sepakat bahwa solusinya bukan berarti berhenti berhemat, melainkan berhemat dengan cara yang tepat. Membeli sesuatu hanya karena diskonnya besar tetap saja pemborosan. Banyak orang terjebak dalam euforia promo hingga menimbun barang yang tidak dibutuhkan bukan hanya uang, waktu dan ruang di rumah pun ikut terbuang.
Sebelum memasukkan barang ke keranjang belanja dalam jumlah besar, ada baiknya ajukan tiga pertanyaan sederhana: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah akan benar-benar terpakai, dan apakah anggaran sudah tersedia untuk itu.
Dengan pola konsumsi yang lebih sadar, setiap rupiah yang dikeluarkan bisa benar-benar memberi manfaat bukan sekadar memenuhi rak yang akhirnya berdebu.

